TANAH LOT TEMPLE

2019

Pura Tanah Lot adalah sebuah objek wisata di Bali, Indonesia. Di sini ada dua pura yang terletak di atas batu besar. Satu terletak di atas bongkahan batu dan satunya terletak di atas tebing mirip dengan Pura Uluwatu.

Sumber : https://www.instagram.com/putra_ind5/

Sejarah Singkat Pura Tanah Lot

Setiap pura di Bali, memiliki latar belakang dan sejarah masing-masing, baik itu sejarah yang tertulis dalam prasasti ataupun lontar-lontar kuno, atau bahkan berasal dari legenda yang diyakini sampai sekarang ini.

Seperti halnya sejarah Pura Tanah Lot, berdirinya pura ini berawal dari perjalanan pendeta suci yang berasal dari kerajaan Majapahit di tanah Jawa, beliau bernama Dang Hyang Nirarta atau Dang Hyang Dwijendra.

Sebagai pendeta suci beliau juga seorang tokoh dalam menyebarkan ajaran agama Hindu, dalam penyebaran agama Hindu perjalanan beliau sampai ke pulau Lombok, di pulau tersebut beliau dikenal dengan gelar Tuan Semeru atau Guru Semeru.

Hijrahnya Dang Hyang Nirarta ke Bali, tidak lepas dari runtuhnya kerajaan Majapahit. Perjalanannya ke Bali dalam rangkaian Dharma Yatra, sebuah perjalanan suci dalam penyebaran agama dan tidak akan kembali ke Jawa.

Yang berkuasa di Bali saat beliau datang adalah Raja Waturenggong, raja dengan suka cita dan hormat menyambut kedatangan orang suci seperti Dang Hyang Nirarta, dalam perjalanan sucinya di Bali Dang Hyang Nirarta mendirikan banyak pura seperti Pura Rambut Siwi, Pulaki, Pura Melanting, Pura Uluwatu, Er Jeruk, Petitenget, Purancak, Ponjok Batu, Kaprusan, Gunung Payung dan Pura Tanah Lot.

Dalam perjalanannya menyusuri pesisir dari Barat, suatu ketika beliau melihat sinar suci dari arah Tenggara, dengan tingkat kerohanian yang tinggi beliau tahu bahwa itu sebuah petunjuk gaib, untuk itulah diikuti sinar tersebut sehingga sampai pada sumbernya sebuah mata air, tidak jauh dari tempat tersebut beliau menemukan tempat yang sangat indah, sebuah bongkahan batu karang besar berbentuk seperti burung yang dinamakan Gili Beo. Di gili inilah Dang Hyang Nirarta melakukan meditasi dan mendekatkan diri dengan Tuhan dan memuja Dewa penguasa laut.

Gili Beo ini terletak di pinggir pantai di wilayah Desa Beraban. Di desa ini sendiri dikuasai oleh seorang bendesa, pemimpin desa ini sangat dihormati warga dan terkenal sakti, pemimpin desa tersebut bernama Bendesa Beraban Sakti, warga yakin, percaya dan bersandar pada seorang pemimpin seperti Bendesa Beraban yang menjadi utusan Tuhan, untuk itulah Bendesa Beraban sangat disegani oleh warga dan memiliki banyak pengikut.

Namun dengan kedatangan Dang Hyang Nirarta ke desa Beraban banyak warga termasuk juga pengikut Bendesa yang ikut ajaran Dang Hyang Nirarta, melihat ini semua Bendesa Beraban menjadi marah dan mengajak pengikutnya untuk mengusir Dang Hyang Nirarta.

Pada saat penyerangan Bendesa Beraban Sakti, dengan kekuatan spiritual Dang Hyang Nirarta melindungi dirinya dari serangan Bendesa dengan memindahkan batu karang besar Gili Beo ke tengah pantai dan dengan selendangnya menciptakan banyak ular berbisa di sekitar batu karang tersebut yang berfungsi sebagai pelindung, sampai sekarang keberadaan ular laut tersebut masih bisa ditemukan, warnanya hitam dengan belang-belang kuning dan berekor pipih, ular ini diyakini sebagai penjaga pura siap menyerang dan mengganggu keberadaan pura, sedangkan bongkahan batu karang tersebut dinamakan Tanah Lot yang akhirnya didirikan sebuah tempat suci bernama Pura Penataran Luhur Tanah Lot.

Menurut legenda yang beredar di sekitar penduduk Beraban (lokasi Pura Tanah Lot), pada abad ke 15 desa mereka di singahi oleh seorang pertapa bernama Dang Hyang Nirartha. Namun kedatangan beliau di tentang keras oleh penguasa desa pada saat itu karena sang Dang Hyang ditakutkan akan menyebarkan ajaran Hindu kepada masyarakat setempat.

Singkat cerita, Dang Hyang Nirartha diyakini melakukan sebuah mukjizat dengan memindahkan bongkahan tanah raksasa tempat ia bertapa, dari daratan ke pinggir pantai. Mulai saat itu, sang penguasa mulai mengakui kesaktian Dang Hyang Nirartha.

Sebelum meninggalkan Beraban, beliau mewariskan sebuah keris dan selendang yang di percaya akan menghilangkan segala wabah penyakit tanaman, sehingga akan mensejahterakan rakyat setempat. Mulai saat itu, warga setempat menikmati peningkatan pada panen, sehingga mulai saat itu, di atas tanah yang di pindahkan ke pinggir pantai itu didirikan sebuah pura yang sekarang dinamakan Tanah Lot. Selendang yang ditinggalkan juga dipercaya bertransformasi menjadi ular suci yang menjaga kesucian pura ini.

Read More
https://www.google.com/amp/s/www.idntimes.com/travel/destination/amp/putriana-cahya/20-tempat-wisata-di-bali-terbaru-2018-liburan-ala-anak-hits

Tinggalkan komentar